Status Quo Sains Matematika Teknologi

Oleh : Nasrullah Idris
Salah satu sumber problem yang menimpa bangsa ini, tetapi kurang disadari oleh para pakar terkaitnya, ialah status quo sains matematika teknologi, sikap statis terhadap ketiganya, tanpa keinginan mengubah paradigmanya, ke arah yang memberikan nilai tambah bagi kehormatan bangsa.

Mental seperti ini pun muncul di kalangan akademisinya sendiri serta lulusan dari perguruan tinggi terkenal, domestik-mancanegara. Sungguh ironis.

Pembangunan sains-matematika-teknologi bukan seperti pacuan kuda. Yang dikejar hanya kecepatan persatuan waktu. Bila meningkat dikatakanlah sebagai prestasi. Tetapi ini untuk apa bila kandangnya dari waktu ke waktu tetap sama.

Beberapa contoh sosok yang bisa dikatagorikan sebagai mental tersebut, sadar atau tidak, antara lain

Menganggap Indonesia tidak akan mampu mengalahkan barat di bidang sains matematika teknologi sampai kapan pun. Tanpa sadar, stigma “sub ordinat” sudah dikenakan pada negeri kita ini. Padahal tidak ada kajian genetika yang mengklasifikasikan kemampuan intelektual berdasarkan suku, agama, ras, maupun golongan.

Menyimpulkan pintu penemuan teori fundamental yang menyangkut kebutuhan manusia sudah tertutup. Sehingga siapa pun dari bangsa ini yang berusaha mencarinya akan sia-sia. Padahal apa yang kita kenal dalam pelajaran seperti fisika, matematika, dan teknik, belum seberapa banyak ketimbang yang belum ditemukan. Jadi siswa sekolah jangan bangga hanya karena mampu manghapal daftar penemu legendaris. Justru mereka bertanya, “Apa ada di antara mereka yang bangsa Indonesia?”

Merasa lebih moderen karena di rumahnya mempunyai peralatan masakan moderen, tetapi cara berpikir memasaknya justru lebih tradisional ketimbang nenek-moyang yang menemukan masakan hanya dengan peralatan masakan yang kita anggap tradisional. Tidak ada muncul kreativitas, improvisasi, maupun inovasi untuk meningkatkan perbedaharaannya pada diri mereka.

Berpandangan, sebuah tulisan seputar sains matematika teknologi bisa berkualitas serta sesuai dengan kaidah ilmiah bila mempunyai banyak referensi, terlebih yang berbahasa asing. Ini namanya pola berpikir modis. Mirip dengan anak ABG yang merasa percaya diri bila rambutnya mengikuti gaya penyanyi Shania Twain.

Menjauhkan sains matematika teknologi dengan kebangsaan. Padahal bahasa pada software yang sedang kita pakai pun tidak terlepas dari latar belakang kebangsaan pada diri si penciptanya. Kalau mereka bisa, mengapa kita tidak? Demikian pula dengan nama unsur atom pada susunan berkala.

Dan banyak lagi yang terlalu panjang untuk disebutkan satu per satu di sini.

Yang jelas, semua itu sedikit-banyak telah membuat kita menjadi bangsa penyontek. Sehingga akhirnya setiap saat kita dijadikan pangsa pasar oleh negara maju.

Ketika kita mabok bergaya dengan ponsel, mobil, sampai busana buatan luar, misalnya, terang saja rezim inovator mencari kesempatan untuk membuat barang yang sama, tetapi mempunyai fasilitas yang lebih praktis dan status yang lebih bergengsi. Kemudian dikirim ke negeri ini, menggantikan produk lama.

Demikianlah seterusnya. Maka tidak heran, mental konsumtif yang melekat pada kita, membuat devisa negara harus terkuras ke luar.

Sekali lagi, itulah salah satu dampak dari mental status quo sains matematika teknologi. Karena itu, jadikanlah ini sebagai masukan bagi penyelesaian persoalan bangsa. Sebab bagaimana pun, setiap negara akan banyak berurusan dengan masalah ketiganya.

Seyogyanyalah pakar ketiga duduk bersama pakar ekonomi, sosial, dan politik. Yaitu membuat terobosan berbasis sains-matematika-teknologi serta gilirannya meningkatkan kehormatan merah putih di tanah air ini.

Ciri sikap merdeka secara beradab adalah persamaan derajat antara kita dengan mereka. Bila masih ada perasaan di bawah, meskipun teriakan retorika “merdeka”, itu namanya sedikit-banyak masih diselimuti mental terjajah. (Nasrullah Idris/Bidang Studi : Reformasi Sains Matematika Teknologi)

 

 

Donasi Jurnal
Nasrullah Idris – 0081929784 – Bank BCA
WA : 0898 2417 998

Iklan

Belajar Sendiri Dapat Gelar Akademik

Oleh : Nasrullah Idris

Baca lebih lanjut